Sekretaris Disnak, Ir. Syaifuddin, mengatakan sosialisasi bertujuan untuk menyuluh masyarakat tentang penyakit flu burung dan
bagaimana cara pencegahan terhadap penyakit tersebut. Dia berterimakasih kepada
masyarakat Panda yang proaktif
melaporkan perihal kematian unggasnya pada pertengahan Februari lalu. Sebanyak
300 ekor entok dinyatakan positif flu burung dan menyebar pada peternakan ayam
masyarakat.
Syaifudin mengharapkan, masyarakat dan aparat
desa dapat lebih pro aktif lagi melaporkan kematian ternaknya kepada petugas
peternakan setempat.
Drh. Nengah Dwiana, Koordinator Local Disease Control Center
(LDCC) Mataram, mengatakan flu burung merupakan penyakit menular yang menyerang
unggas peternakan, termasuk ayam, bebek, ayam aduan, puyuh, kalkun dan juga
unggas liar yang bisa menular pada manusia.
Virus ini dapat ditemukan
dalam cairan lendir mata, hidung dan mulut unggas yang tertular dan juga pada
kotoran unggas yang tertular. “Burung liar dan itik dapat membawa virus ini
tanpa menunjukkan tanda-tanda terkena penyakit,” jelasnya.
Saat ini, belum ditemukan obat
untuk menyembuhkan penyakit flu burung
pada ternak unggas maupun manusia. Untuk
itu, masyarakat perlu mewaspadai jika terjadi kematian tinggi pada unggas
dengan gejala muka, jengger dan otot dada berwarna kebiruan, kepala membengkak,
kaki dan cakar berwarna merah, diare, keluar lender dari mulut dan hidung dan
mati mendadak.
Katanya, masyarakat tidak
boleh menyembelih, memakan, memindahkan atau unggas yang sakit atau mati karena
sakit agar tidak terjadi penyebaran penyakit. Jika menemukan tanda-tanda
penyakit flu burung atau jika melihat ternak yang mati. (BM)


Posting Komentar