Selamat datang di blog komunitas Kampung Media Sape-Lambu

Kedubes Belanda Dukung Sanitasi

Senin, 12 Mei 20140 komentar

KM Parapi: Pertemuan perdana (Kick Off Meeting)  Program Percepatan Sanitasi Pemkab Bima   dihelat  di  aula kantor Pemkab  Bima, Sabtu (10/5) lalu. Pertemuan itu difasilitasi Y-Consultacy, merupakan wujud komitmen Pemerintah Kerajaan Belanda terhadap  pentingnya penataan sanitasi dan kesehatan lingkungan di Kabupaten Bima.

Kepala Bappeda,  Ir. Indra Jaya, mengatakan pembangunan sanitasi merupakan salahsatu misi yang harus dicapai oleh Pemerintah Indonesia sesuai Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014 yang difokuskan pada Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). Upaya mewujudkan sanitasi yang baik, memerlukan peranserta seluruh pemangku kepentingan yang terkait secara langsung dan tidak langsung dalam menanganinya baik pada aras nasional, provinsi maupun Kabupaten/Kota. 

Sesuai harapan tersebut, Pemkab  Bima melalui Bappeda terus mendukung dan mendorong penyusunan suatu perencanaan pembangunan sanitasi yang komprehensif dan terkoordinasi, serta terencana untuk seluruh wilayah dengan prioritas yang terukur, tanggap kebutuhan, berdasarkan kondisi aktual dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Indra mengaku dalam implementasinya masih sering dijumpai  bahwa aspek-aspek pembangunan sanitasi yang meliputi pengelolaan limbah cair, pengelolaan persampahan, pengelolaan drainase dan penyediaan air bersih belum maksimal. Disamping itu,  mendorong masyarakat    melaksanakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masih memerlukan fasilitasi dan dukungan agar dapat terintegrasi. 

Untuk mewujudkan hal ini, pemerintah daerah telah merumuskan visi pembangunan sanitasi yaitu “Terpenuhinya Kebutuhan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Masyarakat Kabupaten Bima Tahun 2015”. Visi ini selanjutnya dijabarkan dalam sejumlah misi.  Yaitu meningkatkan akses masyarakat terhadap air minum, menyediakan dan meningkatkan sarana dan prasarana sanitasi Kabupaten sesuai standar dalam arti luas meliputi drainase, persampahan, dan air limbah.

“Saya  berharap pertemuan  ini dapat menelaah, membahas, dan merumuskan strategi terbaik pengelolaan sanitasi yang mencerminkan kebutuhan para pemangku kepentingan di daerah ini serta selaras dengan kebijakan sanitasi di Kabupaten Bima,” katanya seperti dikutip Bagian Humas dan Protokol Setda dalam pernyataan pers, Minggu sore.

Project Manager Integrated Total Sanitation  Foreas Sumbawa Y-Consultacy,  Roy Timmer, memaparkan tugas utama Y-Consultacy adalah untuk membantu Kelompok Kerja (Pokja) AMPL/Pokja Sanitasi dalam upaya meningkatkan kinerja Pokja. Dalam pelaksanaanya akan mengimplementasikan pilot project pada skala kecil untuk memberi contoh bagaimana agar sanitasi dapat diatasi.

Diakui Roy, kerjasama dalam penanganan masalah Sanitasi di Kabupaten Bima merupakan rangkaian kegiatan Y-Consultacy yang kedua se-Pulau Sumbawa setelah sebelumnya bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bima November 2013-Januari 2014.

“Untuk Kabupaten Bima kami akan membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun mulai dari awal Maret 2014 sampai tahun 2016 mendatang dan pada tahun yang sama juga Y-Consultacy akan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Dompu,” katanya.  

Selanjutnya, kata Roy, bersama masing-masing Pokja akan melakukan kampanye publik dengan cara study tour ke kota lain di Indonesia untuk mengetahui sejauhmana keberhasilan penanganan sekaligus mencari solusi satinasi, drainase, limbah, dan persampahan.

Kegiatan selanjutnya diisi pemaparan Ketua Pokja AMPL Kabupaten Bima, Amar Makruf, SH, soal masalah utama sanitasi di Kabupaten Bima. Dikatakannya, sanitasi sebagai salahsatu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup, kondisi lingkungan permukiman serta kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.

Sampai saat ini, katanya, sanitasi di Kabupaten Bima masih belum ditangani maksimal, sehingga dampak buruk yang diakibatkan berpengaruh pada penurunan citra kabupaten sebagai tujuan wisata, tujuan investasi, maupun menurunnya kesejahteraan masyarakat secara umum.

Katanya, untuk memberikan solusi terhadap masalah tersebut,  telah  dilakukan upaya di antaranya  identifikasi masalah dan strategi yang akan ditempuh untuk mengatasinya. Pada subsektor air limbah misalnya, permasalahan yang muncul adalah kurangnya perhatian dan sosialisasi regulasi, kajian, data dan informasi, rendahnya kesadaran masyarakat dan terbatasnya kemampuan ekonomi yang berakibat terbatasnya akses masyarakat pada sarana kesehatan sesuai standar.

Aspek lainnya yang menjadi masalah adalah kurang tertatanya sarana pembuangan,   tidak adanya standarisasi, tidak adanya instalasi penampungan dan pengolahan limbah yang berwawasan lingkungan.
Amar mengaku demikian halnya pada subsektor persampahan yang masih menghadapi permasalahan. Antara lain belum adanya rencana rencana induk (master plan), belum dimanfaatkannya tempat pemrosesan akhir persampahan dan belum adanya unit kerja pemerintah daerah yang secara khusus menangani persampahan.

“Sama halnya subsektor drainase yang juga belum memiliki rencana induk, rendahnya pemeliharaan dan saluran drainase yang umumnya tidak berfungsi,” katanya.

Untuk mengatasi sejumlah permasalahan sanitasi ini, telah dirumuskan strategi pembangunan sanitasi di Kabupaten Bima yang mencakup rencana induk, infrastruktur kesehatan, instalasi pengolahan dan penyediaan sarana pendukung dan pembentukan kelembagaan, sistem informasi dan pemantauan dan pengevaluasian. (BM)

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Kampung Media NTB | Pemkab Bima | Irank_Scripteerrr | Kampung Kita | Info Bima Terkini
Copyright © 2013. Parapi-Sape - All Rights Reserved
Modify by irank_scripteeer
Proudly powered by Blogger